21
Wed, Feb

Sekali Lagi: Literasi Kebencanaan Penting Libatkan Masyarakat dan Ekosistem

Foto: Clakclik.com

Peristiwa
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Clakclik.com, 5 Januari 2024--Baru lima hari awal tahun 2024 sudah terjadi lebih dari 10 bencana alam di Indonesia. Literasi mitigasi bencana yang melibatkan ekosistem dan komunitas menjadi penting agar tidak menimbulkan banyak korban.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), pada 1-4 Januari 2024 ini sudah terjadi terjadi 10 bencana alam yang mengakibatkan 7.922 orang mengungsi. Tidak ada korban luka, hilang, atau meninggal, tetapi 85 rumah rusak ringan, 1 rumah rusak sedang, dan 2 tempat ibadah rusak.

Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Djati Mardiatno, menjelaskan, literasi kebencanaan mencakup sejumlah komponen, mulai dari pemahaman risiko, kesiapan dan perencanaan, kesadaran evakuasi, hingga pelatihan dan simulasi. Ini sangat penting untuk meningkatkan keselamatan individu dan masyarakat dalam situasi bencana.

”Dengan pemahaman yang baik tentang risiko dan persiapan yang tepat, orang akan dapat lebih baik dalam melindungi diri sendiri, keluarga, dan komunitas mereka ketika bencana terjadi,” kata Djati, Kamis (4/1/2023).

Kombinasi antara geomorfologi lingkungan dan literasi kebencanaan melibatkan pemahaman tentang kontribusi kajian permukaan bumi dan bentang alam terhadap kesadaran, kesiapsiagaan, dan respons terhadap bencana. Keterkaitan di antara kedua tema tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai upaya, seperti mengidentifikasi kerawanan bencana.

Menurut Djati, ekosistem berperan penting dalam mengurangi risiko bencana secara berkelanjutan. Namun, hingga saat ini sedikit penelitian komprehensif yang merangkum pengetahuan tentang jasa ekosistem dan fungsinya dalam pengurangan risiko bencana.

Oleh karena itu, pemanfaatan jasa lingkungan merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko bencana berbasis ekosistem. Misalnya, wilayah pantai dan pesisir dengan kerapatan vegetasi yang tinggi cenderung memiliki kerentanan yang rendah terhadap bencana di pesisir.

”Keterpaduan antara pemanfaatan jasa lingkungan ekosistem dan kapasitas komunitas merupakan kombinasi strategis dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ucapnya.

Mantan Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM Periode 2013-2018 ini juga menjelaskan konsep pengurangan risiko bencana berbasis ekosistem dan komunitas (PRBBEK/EcoCBDRR). Konsep ini menekankan pada konservasi ekosistem, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan sebagai elemen kunci pengurangan risiko bencana.

PRBBEK sangat relevan dengan kajian geografi sebab inti kajian geografi adalah hubungan dan keterpaduan antara manusia dan lingkungan yang dapat diwujudkan dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Konsep tersebut diwujudkan dengan aksi terkoordinasi berbasis ekosistem dan komunitas. Langkah ini menawarkan jalan untuk mempertahankan ekosistem dan penghidupan manusia di lingkungan geomorfologis yang memiliki keanekaragaman hayati dan multiancaman bencana. Aksi ini membantu wilayah rawan bencana dalam memitigasi bencana.

”PRBBEK seharusnya dapat dipadukan dengan baik dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan. Komponen multiple helix perlu bekerja sama untuk menghadapi tantangan ini,” kata Djati.

Sementara itu, BNPB terus berupaya meningkatkan literasi masyarakat tentang kebencanaan. Salah satunya dengan data yang terkelola dengan baik dan terintegrasi sebagai dasar utama pada setiap fase manajemen bencana.

Data itu kini bisa diakses secara terbuka melalui laman ”Satu Data Bencana Indonesia”. Situs portal ini akan memberikan informasi berbasis data inklusif sehingga dapat menjadi rujukan dalam setiap pengambilan kebijakan dan tindakan dalam fase prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana.

Data yang ditampilkan portal ini termasuk data perbandingan pada tahun berjalan ataupun data pada periode yang sama dari tahun ke tahun. Melalui data yang ditampilkan bisa terukur apakah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana sudah berdampak signifikan atau belum terutama di tingkat kabupaten, kota, provinsi, ataupun nasional.

Selain menjadi rujukan dalam pengambil keputusan, portal ini juga menjadi upaya memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana dan mengurangi risiko bencananya.

”Portal ini akan menjadi instrumen dalam upaya mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam siaran pers, Kamis (28/12/2023). (c-hu)