16
Sat, Oct

Hilir Sungai Juwana, Potensi Wisata (yang) Terlupa

Kapal parkir di Sungai Juwana, Minggu (29/12/2019) / @insahu-Clakclik.com

Wisata
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Juwana, Clakclik.com—Sejumlah nelayan tradisional yang tergabung dalam ‘Kelompok Nelayan Sejahtera’ Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah sudah lama menggagas pengembangan wisata Sungai Juwana.

Gagasan itu lahir bukan karena melihat Sungai Juwana yang bersih dan berpemandangan indah, namun justru sebaliknya. Mereka berfikir bahwa jika Sungai Juwana dilingkungan mereka dijadikan tempat wisata, mereka berharap para pihak akan tergerak untuk mengelola Sungai Juwana secara lebih baik.

“Kami melihat ditempat-tempat lain, jika sungainya dipakai untuk wisata kan jadi bersih, warganya tidak membuang sampah ke sungai, pemerintahnya mulai dari desa, kabupaten, propinsi hingga nasional mau membantu penataan. Jadi sungai menjadi asri dan nyaman. Bagi warga sekitar sungai juga membantu secara ekonomi. Bisa berjualan dan menyediakan sarana-prasarana wisata air,” Kata Munandirin, Sekretaris Kelompok Nelayan Sejahtera, Minggu (29/12/2019).

Pantauan Clakclik.com, Minggu (29/12/2019) kondisi wilayah hilir Sungai Juwana memang semprawut dan kumuh. Sejak dari bawah jembatan jalan Pantura, kita sudah bisa melihat ratusan parkir kapal di kanan kiri sungai, juga beberapa industry dok kapal. Semakin ke arah hilir menuju laut, kita akan menemukan semprawutnya parkir kapal yang jumlahnya ratusan unit. Sebagian kapal mangkrak yang sudah menjadi bangkai juga ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.

Semakin ke bawah, riuh pelabuhan bongkar muat ikan menambah suasana semakin hiruk pikuk. Hingga sampai dikawasan ‘Pulau Seprapat’ sepanjang alur Sungai Juwana dipenuhi kapal-kapal besar yang diparkir. Ada yang diparkir karena sedang tidak melaut, ada yang sedang bongkar muat, ada yang sedang dilakukan perbaikan dan perawatan tapi juga banyak yang merupakan bangkai kapal yang sengaja ditinggal pemiliknya begitu saja.

Baru setelah lepas dari ‘Pulau Seprapat’ suasana terasa cukup lega. Rimbung mangrove yang sudah tipis menambah kesejukan sungai. Ditingkahi dengan ribuan burung blekok sawah, kuntul dan beberapa jenis burung sungai lainnya.

Sejumlah pemancing yang berlindung dibawah pohon mangrove juga menambah suasana seru. Sesekali para pemancing meneriaki perahu-perahu nelayan yang sedang melaju entah karena kenal atau sekedar saling sapa.

Selain pemancing, beberapa nelayan penebar jala tepian juga bisa dijumpai disepanjang rute sekitar 3 kilo meter sebelum perahu memasuki bibir laut. Saat sampai bibir laut, ratusan perahu nelayan terlihat mondar-mandir dilaut.

Perjalanan 6 kilo meter dari bawah jembatan jalan Pantura hingga bibir laut memakan waktu sekitar 2 jam. Saat perahu saling berpapasan atau perahu yang kita tumpangi berpapasan dengan kapal yang akan bersandar, sensasi ombak laut bisa kita rasakan di Sungai Juwana.

“Sebenarnya lengkap pemandangannya jika hilir Sungai Juwana ini dijadikan destinasi wisata. Ada ribuan kapal parkir, mangrove, ribuan burung aneka jenis dan jika kita melaju saat pagi hari, kita bisa melihat merah terbit mentari pagi,” Kata Munandirin. (c-hu)

 

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.