21
Wed, Feb

2024: Bencana Hidrometeorologi Mengintai Lagi

Inspirasi
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Ancaman bencana alam semakin meningkat seiring dengan datangnya puncak musim hujan di Indonesia. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan pemerintah pun dituntut harus menyiapkan skenario manajemen kebencanaan yang semakin baik.

Editorial | Clakclik.com | 31 Desember 2023

Frekuensi kejadian bencana di Indonesia tercatat sangat besar, setidaknya 3.000 kejadian bencana terjadi setiap tahunnya. Jenis bencana yang melanda pun juga sangat beragam, mulai dari bencana tektonisme, seperti gempa, hingga hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Akibatnya, ratusan orang harus kehilangan nyawa dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.

Salah satu jenis bencana paling sering terjadi adalah bencana hidrometeorologi. Ironisnya, tingginya ancaman bencana itu tanpa disertai kesiapan mitigasi serta kesadaran yang tinggi dalam menjaga lingkungan. Akibatnya, hidrometeorologi menjadi bencana paling mematikan sepanjang tahun 2023 ini.

Banjir, tanah longsor, atau cuaca esktrem menjadi jenis bencana yang sangat lazim melanda wilayah Indonesia. Dengan frekuensi kejadian yang sangat tinggi menyebabkan banyak kerusakan dan kerugian bagi pemerintah dan masyarakat. Bencana hidrometeorologi adalah segala fenomena alam hasil interaksi antara dinamika atmosfer dengan kadar air yang terjadi di permukaan Bumi.

Sepanjang tahun 2023 ini, tercatat sedikitnya ada 2.800 kejadian bencana. Dari total ribuan kejadian bencana, sekitar 95 persen bencana tersebut termasuk bencana hidrometeorologi. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh wilayah Indonesia memiliki risiko bencana yang tinggi sehingga berpotensi besar mendapat ancaman terjangan bencana alam.


Dengan semakin banyaknya kejadian bencana yang telah terjadi di Indonesia, maka dibutuhkan transformasi manajemen kebencanaan yang lebih mumpuni. Langkah progresif yang dapat dilakukan adalah memetakan kelompok paling rentan terdampak bencana. Selanjutnya, meningkatkan standar hidup setiap individu dalam kelompok tersebut agar kian tangguh menghadapi ancaman bencana.

Selain itu, juga perlu ditunjang dengan peningkatan infrastruktur dan sistem respons kebencanaan guna mencegah tingginya fatalitas akibat bencana alam tersebut. Konektivitas berbagai pihak, baik di pihak pemerintahan maupun swasta, juga sangat diperlukan untuk membantu keberhasilan upaya mitigasi itu.

Saat ini lebih dari 75 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa Desember hingga Januari menjadi titik puncak musim hujan di seluruh Indonesia dengan intensitas beragam di setiap lokasi. Hasil pantauan BMKG pada 23 Desember 2023 menunjukkan bahwa hujan intensitas lebat dan potensi suhu panas terik masih dapat terjadi selama periode akhir tahun 2023 hingga tahun baru 2024.

Kondisi tersebut dipicu oleh beberapa fenomena dinamika atmosfer. Pertama, adanya sirkulasi angin di Laut China Selatan yang menghambat aliran massa udara basah dari Asia ke wilayah Indonesia. Implikasinya, hujan lebat akan terkonsentrasi di wilayah Sumatera dan Kalimantan sisi barat. Sirkulasi angin tersebut juga berdampak pada kurangnya potensi pertumbuhan awan di selatan ekuator.

Selain sirkulasi angin di Laut China Selatan, ada pula anomali fase kering Madden Julian Oscillation (MJO) di beberapa wilayah Indonesia. MJO menyebabkan berkurangnya tutupan awan pada siang hari sehingga kondisi suhu cukup panas dan terik hingga mencapai suhu 35-37 derajat celsius. Kondisi tersebut menyebabkan cuaca cukup fluktuatif di banyak wilayah Indonesia dan patut diwaspadai oleh masyarakat.

Kenaikan curah hujan pada pengujung tahun 2023 perlu menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut mampu menyebabkan banyak kejadian bencana, seperti banjir dan tanah longsor.

Kejadian bencana karena dinamika atmosfer di akhir tahun 2023 hingga awal tahun 2024 adalah fenomena yang berulang setiap tahun. Dari 2.800 kejadian bencana alam sepanjang tahun 2023, sedikitnya 95 persen adalah bencana hidrometeorologis, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, serta kebakaran hutan dan lahan.

Situasi itu sudah sepatutnya diwaspadai sebagai bentuk kerawanan yang harus dimitigasi secara optimal guna mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana alam.

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.