SAINS DAN PEMIHAKAN

Ilustrasi / Clakclik.com

Opini
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Oleh: Farid Gaban
Editor in Chief The GeoTimes Online, Direktur Zamrud Khatulistiwa Foundation

Saya melihat sains sebagai kebutuhan praktis. Metode saintifik merupakan satu-satunya common-ground bagi banyak orang yang beragam untuk merumuskan kebijakan publik (public policy) yang membingkai kehidupan kita bersama, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Kebijakan publik, menurut saya, haruslah dilandasi oleh sains; bukan oleh selera politik, sikap fanatik keagamaan tiap golongan, atau oleh interest ekonomi segelintir orang.

Pertimbangan sains harus diutamakan, tidak hanya dalam kita mengatasi ancaman wabah (seperti corona sekarang), tapi juga dalam kebijakan mencegah dan menangani bencana, dalam transportasi, energi, ekonomi, sosial-budaya, kelestarian alam, dan hampir semua aspek kehidupan.

Dalam konteks kebijakan publik, perdebatan terpenting bukanlah apakah sains itu utama atau tidak utama (sudah jelas utama). Tapi sebarapa jauh metodologi sains dipakai dan diterapkan. Menurut saya, justru belum terlalu jauh. Bahkan masih sangat sedikit.

Kita harus mendorong pengarus-utamaan sains, namun pada saat yang sama justru harus makin kritis pula terhadap klaim-klaim keilmiahan yang sering kali cacat, palsu dan hegemonik (menindas).

Kita tidak hidup di ruang kosong dan dalam dunia yang sempurna. Anggaran riset ilmiah kita, misalnya, sangat terbatas, yang sudah jelas membatasi kita dalam mempromosikan "perangai sains" (scientific temper), bahkan jika kita semua sepakat tentang keutamaannya.

Soal kedua menyangkut kapasitas dan disiplin kita dalam menerapkan metodologi sains. Banyak riset ilmiah, khususnya di bidang sosial dan humaniora, tergantung pada ketersediaan dan kesahihan data yang dikumpulkan oleh badan negara seperti Badan Pusat Statistik (BPS) misalnya. Terus terang harus saya katakan, metodologi survai BPS yang betumpu pada kerja kaum birokrat, sangat jauh dari memadai.

Tanpa data akurat, sulit membuat kebijakan yang memuaskan. Kita tahu, misalnya, bagaimana amburadulnya data "orang miskin" terkait dengan kebijakan bantuan sosial yang belum lama ini banyak diperbincangkan.

Kita juga sering melihat buruknya produk analisis dampak lingkungan (AMDAL) dalam menilai kelayanan proyek pemerintah/swasta. Kajian AMDAL, yang seharusnya ketat memakai metodologi ilmiah, justru cenderung cuma menjadi stempel karet (justifikasi) terhadap apa yang sudah diputuskan secara politik oleh aparat pemerintah dan pengusaha.

Ada banyak tema riset sains yang tentu saja bagus jika bisa kita lakukan semua, dari perikanan hingga rekayasa genetika hingga eksplorasi antariksa. Tapi, keterbatasan anggaran dan kapabilitas menuntut kita membuat prioritas. Manakah yang harus didahulukan: riset pertanian yang bisa mengangkat kesejahteraan petani, misalnya, atau riset genetika nuklir 4.0 yang jauh dari kebutuhan?

Prioritas itu akan menjadi ajang perebutan persepsi tentang apa yang penting atau tidak penting, serta perebutan kepentingan politik maupun ekonomi. Dalam kaitan ini, tidak cukup untuk mengatakan bahwa sains itu utama, tapi sains untuk apa dan siapa yang diuntungkan.

Makin tinggi keyakinan kita tentang keutamaan sains, menurut saya, perlu diimbangi daya kritis yang makin tajam terhadap klaim-klaim keilmiahaan. Pseudo-sains tidak hanya lazim di kalangan masyarakat awam, tapi juga di lingkungan negara dan swasta besar.

Kita tahu bahwa "research and development" tidak hanya dilakukan oleh lembaga negara, tapi juga oleh swasta nasional maupun multi-nasional. Bahkan peran swasta dalam riset ilmiah makin kuat belakangan ini, misalnya dalam farmasi, kesehatan, maupun bidang-bidang lainnya.

Laboratorium riset swasta, bagaimanapun, punya motif profit dan tidak bebas dari kepentingan bisnis. Bahkan banyak riset universitas negeri dibiayai oleh swasta.

Perusahaan-perusahaan swasta tak hanya melakukan riset tapi juga mempromosikannya secara besar-besaran untuk menjamin lakunya produk hasil riset. Apa yang disebut ilmiah atau tidak ilmiah pada akhirnya tentang adu kuat kapital (uang).

Obat pabrikan, misalnya, diberi stempel ilmiah, dan karenanya lebih dianjurkan pemakaiannya ketimbang jamu tradisional, meski jamu itu sudah dipakai turun-temurun (artinya melalui pengalaman empiris yang panjang).

Tidak cukup untuk mengatakan bahwa "sains itu tidak sempurna, bisa dikoreksi dan tidak final".

Banyak persepsi dan pengetahuan kita tentang produk sains seperti obat-obatan, misalnya, tidak mudah dikoreksi; semata-mata karena merasuk dalam kesadaran kita lewat iklan-iklan produk yang masif dari hari ke hari. Ada ketimpangan relasi-kekuasaan di antara promotor sains.

Betul bahwa sains palsu/cacat pada akhirnya akan terkoreksi juga di kelak kemudian hari, tapi biasanya setelah menimbulkan dampak besar yang seringkali merugikan khalayak ramai.

Di India belum lama lalu, orang memprotes bagaimana benih beras basmati (yang enak dan pulen itu) dibawa ke laboratorium sebuah perusahaan multinasional, yang kemudian memodifikasinya secara genetik dan mematenkan benih itu. Orang India yang semula bisa mendapatkan benih basmati secara gratis turun-temurun, kini harus membeli, bahkan bisa diancam pidana jika mencoba menanam turunannya.

Di situ kita melihat bahwa "label ilmiah" (rekayasa genetika) memberi justifikasi pada perampokan sumber daya genetik (bio-piracy) dan membenarkan kesarakahan sempit (paten perusahaan).
Disadari atau tidak, semangat mempromosikan "perangai ilmiah" juga sering dipakai untuk menyepelekan dan mengabaikan kearifan tradisional dengan menyebutnya sebagai klenik atau tahyul semata.

Masyarakat-masyarakat tradisional Indonesia mengenal tradisi seperti "sasi" atau "hutan larangan". Dalam aturan sasi, warga dilarang mengail atau menjala ikan di teluk dan sungai tertentu dan pada kurun tertentu. Di tempat lain, warga dilarang menebang pohon di wilayah tertentu, dengan menyebutnya sebagai "hutan keramat" agar orang takut melanggarnya.

Di tengah deru modernitas yang ilmiah (katanya), suku-suku tradisional digusur dan tradisi mereka dilecehkan. "Keutamaan sains" dipakai dalih oleh kalangan pengagum developmentalisme dan orang-orang mabuk investasi untuk menyingkirkan warga yang diberi label primitif.

Padahal, cara hidup tradisional itulah yang justru telah menyelamatkan alam: konsep "sasi" berjasa mengurangi "over-fishing di laut dan "illegal/over-logging" di darat. "Hutan larangan" menyelamatkan sumber-sumber air yang kini makin langka di desa-desa.

Sains mungkin netral. Tapi, pembawa dan promotornya tidak. Pengutamaan sains akhirnya juga tentang pemihakan: siapa yang mau Anda bela.